Gagal Ginjal Kronik (GGK)
A. Definisi Gagal Ginjal Kronik
Gagal ginjal kronik (GGK) : ketidak
mampuan ginjal untuk mempertahankan
keseimbangan dan itergritas tubuh
yang mncul secara bertahap sebelum terjun ke fase
penurunan faal ginjal tahap akhir.
Gagal ginjal kronik : penurunan
semua faal ginjal secara bertahap, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein
dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah
kerusakan ginjal atau penurunan faal ginjal lebih
atau sama dengan 3 bulan sebelum
diagnosis ditegakkan. Sesuai rekomendasi dari
NKF-DOQI (2202).
Ada beberapa pengertian gagal ginjal
kronik yang dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu :
Gagal ginjal kronik merupakan
kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung perlahan-lahan karena
penyebab berlangsung lama dan menetap yang mengakibatkan penumpukan sisa
metabolit (toksin uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa
lagi dan menimbulkan gejala sakit (Hudak & Gallo, 1996).
Long (1996 : 368) mengemukakan bahwa
gagal ginjal kronik adalah ginjal sudah tidak mampu lagi mempertahankan
lingkugan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi sudah
tidak ada.
Gagal ginjal kronik merupakan
penurunan faal ginjal yang menahun yang umumnya
tidak riversibel dan cukup lanjut.
(Suparman, 1990: 349).
Gagal ginjal kronik merupakan
perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,
biasanya berlangsung dalam beberapa
tahun (Lorraine M Wilson, 1995: 812).
B. Etiologi Gagal Ginjal Kronik
Umumnya gagal ginjal kronik
disebabkan penyakit ginjal intrinsic difus dan menahun. Tetapi hampir semua
nefropati bilateral dan progresif akan berakhir dengan gagal ginjal kronik.
Umumnya penyakit diluar ginjal, missal nefropati obstruktif dapat menyebabkan
kelainan ginjal intrinsic dan berakhir dengan gagal ginjal kronik.
Glomerulonefritis hipertensi
essensial dan pielonefritis merupakan penyebab paling sering dari gagal ginjal
kronik kira-kira 60%. Gagal ginjal kronik yang berhubungan dengan penyakit
ginjal polikistik dan nefropati obstruktif hanya 15 – 20 %. Glomerulonefritis kronik
merupakan penyakit parenkim ginjal progresif dan difus, seringkali berakhir
dengan gagal ginjal kronik. Laki-laki lebih sering dari wanita, umur 20 – 40
tahun. Sebagian besar pasien relatif muda dan merupakan calon utama untuk
transplantasi ginjal. Glomerulonefritis mungkin berhubungan dengan
penyakit-penyakit system (Glomerulonefritis sekunder) seperti Lupus
Eritomatosus Sitemik, Poliarthritis Nodosa, Granulomatosus Wagener.
Glomerulonefritis (Glomerulopati) yang berhubungan dengan diabetes melitus (Glomerulosklerosis)
tidak jarang dijumpai dan dapat berakhir dengan gagal ginjal kronik.
Glomerulonefritis yang berhubungan dengan amiloidosis sering dijumpai pada
pasien-pasien dengan penyakit menahun sperti tuberkolosis, lepra,
osteomielitis, dan arthritis rheumatoid, dan myeloma.
Penyakit ginjal hipertensif
(arteriolar nefrosklerosis) merupakan salah satu penyebab gagal ginjal kronik.
Insiden hipertensi essensial berat yang berekhir dengan gagal ginjal kronik
kurang dari 10 %. Kira-kira 10 -15% pasien-pasien dengan gagal ginjal kronik
disebabkan penyakit ginjal
Pada orang dewasa, gagal ginjal
kronik yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih dan ginjal (Pielonefritis)
tipe uncomplicated jarang dijumpai, kecuali tuberculosis, abses multiple,
nekrosis papilla renalis yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.
Seperti diketahui,nefritis
interstisial menunjukkan kelainan histopatologi berupa fibrosis dan reaksi
inflamasi atau radang dari jaringan interstisial dengan etiologi yang banyak.
Kadang dijumpai juga kelainan-kelainan mengenai glomerulus dan pembuluh darah,
vaskuler. Nefropati asam urat menempati urutan pertama dari etiolgi nefrotis
interstisial.
C. Perjalanan klinis
Perjalanan umum gagal ginjal
progresif dapat dibagi menjadi 3 stadium:
Stadium I
Penurunan cadangan ginjal (faal
ginjal antar 40 % – 75 %). Tahap inilah yang paling ringan, dimana faal ginjal
masih baik. Pada tahap ini penderita ini belum merasasakan gejala gejala dan
pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih dalam masih dalam batas normal.
Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam
batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya
dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat, sepersti tes
pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test GFR yang teliti.
Stadium II
Stadium II
Insufiensi ginjal (faal ginjal antar
20 % – 50 %). Pada tahap ini penderita dapat melakukan tugas tugas seperti
biasa padahal daya dan konsentrasi ginjal menurun. Pada stadium ini pengobatan
harus cepat dalam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan
jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal
ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat
mencegah penderita masuk ketahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75
% jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat diatas
batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda beda, tergantung dari
kadar protein dalam diit.pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat
melebihi kadar normal.
Poliuria akibat gagal ginjal
biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama menyerang tubulus, meskipun
poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter / hari. Biasanya
ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal diantara 5 % – 25 % .
faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala gejala kekurangan darah,
tekanan darah akan naik, , aktifitas penderita mulai terganggu.
Stadium III
Stadium III
Uremi gagal ginjal (faal ginjal
kurang dari 10 %)
Semua gejala sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan diman tak dapat melakukan tugas sehari hair sebaimana mestinya. Gejal gejal yang timbul antara lain mual, munta, nafsu makan berkurang., sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Stadum akhir timbul pada sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur. Nilai GFR nya 10 % dari keadaan normal dan kadar kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml / menit atau kurang.
Semua gejala sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan diman tak dapat melakukan tugas sehari hair sebaimana mestinya. Gejal gejal yang timbul antara lain mual, munta, nafsu makan berkurang., sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Stadum akhir timbul pada sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur. Nilai GFR nya 10 % dari keadaan normal dan kadar kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml / menit atau kurang.
Pada keadaan ini kreatinin serum dan
kadar BUN akan meningkat dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium
akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena
ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis caiaran dan elektrolit
dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang dari
500/ hari karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula mula
menyerang tubulus ginjal,
kompleks menyerang tubulus gijal,
kompleks perubahan biokimia dan gejala gejala yang dinamakan sindrom uremik
mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal ginjal,
penderita pasti akan menggal kecuali ia mendapat pengobatan dalam bentuk
transplantasi ginjal atau dialisis.
D. Gejala Klinik Gagal Ginjal Kronik
Pada gagal ginjal kronis,
gejala-gejalanya berkembang secara perlahan. Pada awalnya tidak ada gejala sama
sekali, kelainan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium.Pada
gagal ginjal kronis ringan sampai sedang, gejalanya ringan meskipun terdapat
peningkatan urea dalam darah. Pada stadium ini terdapat nokturia dan
hipertensi. Sejalan dengan perkembangan penyakit, maka lama kelamaan akan
terjadi peningkatan kadar ureum darah semakin tinggi.Pada stadium ini,
penderita menunjukkan gejala-gejala: letih, mudahlelah,
sulitkonsentrasi,nafsumakanturun, mual muntah, cegukan, tungkai lemah,
parastesi, keramotot-otot, insomia, nokturai, oliguria,sesaknafas, sembab,
batuk, nyeri perikardial,malnutrisi, penurunan berat badan letih.
Pada stadium yang sudah sangat
lanjut, penderita bisa menderita ulkus dan perdarahan saluran pencernaan.
Kulitnya berwarna kuning kecoklatan dan kadang konsentrasi urea sangat tinggi
sehingga terkristalisasi dari keringat dan membentuk serbuk putih di kulit (bekuan
uremik). Beberapa penderita merasakan gatal di seluruh tubuh.
Menurut Suhardjono (2001),
manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal
kronik yaitu:
1.Gangguan pada sistem
gastrointestinal
a.Anoreksia, nausea, dan vomitus
yang berhubungan dengan gangguan metaboslime
protein dalam usus.
b. Mulut bau amonia disebabkan oleh
ureum yang berlebihan pada air liur.
c. Cegukan (hiccup)
2. Gastritis erosif, ulkus peptik,
dan kolitis uremik.
a. Sistem Integumen
-Kulit berwarna pucat akibat anemia.
Gatal dengan ekskoriasi akibat toksin uremik.
-Ekimosis akibat gangguan hematologis
-Urea frost akibat kristalisasi urea
-Bekas-bekas garukan karena gatal
-Ekimosis akibat gangguan hematologis
-Urea frost akibat kristalisasi urea
-Bekas-bekas garukan karena gatal
– Kulit kering bersisik
– Kuku tipis dan rapuh
– Rambut tipis dan kasarb. Sistem
Hematologi
-Anemia
-Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia
-Gangguan fungsi leukosit.
-Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia
-Gangguan fungsi leukosit.
c. Sistem saraf dan otot
-Restles leg syndrome
-Burning feet syndrome
-Ensefalopati metabolic
-Miopati
-Burning feet syndrome
-Ensefalopati metabolic
-Miopati
d. Sistem Kardiovaskuler
-Hipertensi
-Akibat penimbunan cairan dan garam.
-Nyeri dada dan sesak nafas
-Gangguan irama jantung
-Edema akibat penimbunan cairan.
-Akibat penimbunan cairan dan garam.
-Nyeri dada dan sesak nafas
-Gangguan irama jantung
-Edema akibat penimbunan cairan.
e. Sistem Endokrin
-Gangguan seksual: libido,
fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki.
-Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dan gangguan sekresi insulin.
-Gangguan metabolisme lemak.
-Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dan gangguan sekresi insulin.
-Gangguan metabolisme lemak.
-Gangguan metabolisme vitamin D.
E. Pendekatan Diagnosis Gagal Ginjal
Kronik
Sasarannya yaitu :
1. Memastikan adanya penurunan faal
ginjal (LFG)
2. Mengejar etiologi GGK yang mungkin dapat di koreksi
3. Mengidentifikasi semua factor pemburuk faal ginjal (reversible factors)
4. Menentukan strategi terapi rasional
5. Meramalkan prognosis
2. Mengejar etiologi GGK yang mungkin dapat di koreksi
3. Mengidentifikasi semua factor pemburuk faal ginjal (reversible factors)
4. Menentukan strategi terapi rasional
5. Meramalkan prognosis
1. Pemeriksaan fisik diagnosis
Gambaran klinik mempunyai spectrum
klinik luas dan melibatkan banyak dan tergantung dari derajat penurunan faal
ginjal dan lebih makin nyata bila pasien sudah terjun ke fase terminal dari
gagal ginjal terminal (GGT) dengan melibatkan banyak organ seperti system
hemopoiesis, saluran cerna yang lebih berat, saluran nafas, mata, kulit, selaput
serosa (pluritis dan perikarditis), system kardiovaskuler, dan neuropsikatri.
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik
harus dapat mengungkapkan etiologi GGK yang dapat dikoreksi maupun yang tidak
dapat dikoreksi. Semua factor etiologi yang mungkin dapat dikoreksi biasanya
sulit terungkap pada anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis tetapi informasi
ini sangat penting sebagai panduan pengejaran diagnosis dengan memakai sarana
penunjang laboratorium dan pemeriksaan yang lebih spesifik.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk menentukan ada tidaknya
kegawatan, menentukan derajat GGK, menentukan gangguan sistem, dan membantu
menetapkan etiologi. Blood ureum nitrogen (BUN)/kreatinin meningkat, kalium
meningkat, magnesium meningkat, kalsium menurun, protein menurun. Tujuan
pemeriksaan laboratorium yaitu (1) memastikan dan menentukan derajat penurunan
faal ginjal LFG, (2) identifikasi etiologi, (3) menentukan perjalanan penyakit
termasuk semua factor pemburuk faal ginjal yang sifatnya terbalikan
(reversible).
Beberapa pemeriksaan penunjang
diagnosis :
a. Foto polos perut
b. USG
c. Nefrotomogram
d. Pielografi retrograde
e. Pielografi antegrade
f. Micturatingcysto urography (MCU)
Sebagian besar pasien GGK harus
menjalani program terapi simtomatik untuk mencegah atau mengurangi populasi
gagal ginjal terminal (GGT).Banyak faktor perlu dikendalikan untuk
mencegah/memperlambat progresivitas penurunan faal ginjal (LFG).
Protein hewani, hiperkolesterolemia,
hipertensi sistemik, gangguan elektrolit (hipokalsemia & hipokalemia) merupakan
faktor-faktor yang memperburuk faal ginjal. Kelainan hemodinamik intrarenal
(hipertensi intraglomerulus) seperti terdapat pada hipertensi essensial dan
nefropati diabetik merupakan faktor yang harus diantisipasi dan dikendalikan
untuk mencegah penyakit ginjal terminal. Intervensi terhadap perubahan-
perubahan patogenesis dan patofisiologi ini merupakan kunci keberhasilan upaya
untuk mencegah/ mengurangi penurunan faal ginjal (LFG) yang berakhir dengan
penyakit
Perubahan faal ginjal (LFG) bersifat
individual untuk setiap pasien GGK, lama terapi konservatif bervariasi dari
bulan sampai tahun.
Tujuan terapi konservatif, yaitu:
- mencegah memburuknya faal ginjal secara progresif
- meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin azotemia
- mempertahankan dan memperbaiki metabolisma secara optimal
- memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit.
Beberapa prinsip terapi konservatif
- mencegah buruknya faal ginjal (LFG)
hati-hati pemberian obat yang
bersifat nefrotoksik, hindari keadaan yang menyebabkan deplesi volume cairan
ekstraseluler dan hipotensi hindari gangguan keseimbngan elektrolit hindari
pembatasan ketat konsumsi protein hewani hindari proses kehamilan dan pemberian
obat kontrasepsi hindari insttrumentsasi (keteterisasi dan sistoskopi) tanpa
indikasi medik yang kuat hindari pemeriksaan radiologi dengan media kontras
tanpa indikasi medik yang kuat.
- program memperlambat penurunan progresif faal ginjal
kendalikan hipertensi sistemik dan
intraglomerularkendalikan terapi ISKdiet protein yang proporsionalkendalikan
hiperfosfatemiaterapi hiperurikemia bila asam urat serum > 10 mg% terapi
keadaan asidosis metabolik kendalikan keadaan hiperglikemia
- terapi alleviative gejala azotemia
pembatasan konsumsi protein hewani
terapi gatal-gatal terapi keluhan gastrointestinal terapi gejala neuromuskuler
terapi kelainan tulang badan sendi, terapi anemia, terapi setiap infeksi
(bakteri, virus HBV atau HCV)
F. Peranan diet
Terapi diet rendah protein (DRP).
Terapi diet rendah protein menguntungkan untuk mencegah atau mengurangi toksik
azotemia tetapi untuk jangka lama dapat merugikan terutama gangguan
keseimbangan negatif nitrogen
Tujuan program diet rendah
protein(DRE)
a. mempertahankan kkeadaan nutrisi optimal
b. mengurangi atau mencegah akumulasi toksin azotemia
c. mencegah menbruknyafaal ginjal (LFG) akibat proses glomerulosklerosis
a. mempertahankan kkeadaan nutrisi optimal
b. mengurangi atau mencegah akumulasi toksin azotemia
c. mencegah menbruknyafaal ginjal (LFG) akibat proses glomerulosklerosis
Pasien kelompok GGK dengan LFG ≤ 5
ml per hari dan sindrom nefrotik dapat diberikan diuretika untuk memperlancar
diuresis, misal furosemide. Takaran furosemide 40-80 mg per hari, dapat
dinaikkan 40 mg per hari (interval 2 hari) sampai jumlah takaran maksimal 3
gram per hari.
Diet Rendah Protein untuk Penyakit
Ginjal Kronik:
Selain faktor keturunan, diabetes, hipertensi, infeksi, batu ginjal, gaya hidup dan pola makan juga sangat berpengaruh kejadian penyakit ginjal kronik yang berakibat pada gagal ginjal. Agar kondisi ginjal tidak semakin parah, perlu dilakukan diet khusus bagi pederita penyakit ginjal kronik.
Selain faktor keturunan, diabetes, hipertensi, infeksi, batu ginjal, gaya hidup dan pola makan juga sangat berpengaruh kejadian penyakit ginjal kronik yang berakibat pada gagal ginjal. Agar kondisi ginjal tidak semakin parah, perlu dilakukan diet khusus bagi pederita penyakit ginjal kronik.
Penyakit ginjal kronik (Chronic
Kidney Disease) adalah keadaan dimana terjadi penurunan fungsi ginjal yang
menahun disebabkan oleh berbagai penyakit ginjal. Penyakit ini bersifat
progresif dan umumnya tidak dapat pulih kembali (irreversible). Gejalanya
biasanya ditandai dengan menurunnya nafsu makan, mual, pusing, muntah, rasa
lelah, sesak nafas, edema pada tangan dan kaki serta uremia. Apabila Tes Kliren
Kreatinin (TKK) <> 5,5 mEq), oliguria atau anuria. Cairan dibatasi, yaitu
sebanyak jumlah urin sehari ditambah pengeluaran melalui keringat dan pernafasan
(± 500 ml)
Vitamin cukup, bila perlu diberikan
suplemen piridoksin, asam folat, vitamin C dan vitamin D.
Kebutuhan nutrisi tubuh sangat
dipengaruhi dengan berat badan, karenanya diet diberikan disesuaikan dengan
berat badan pasien. Berdasarkan Penuntun Diet yang disarankan oleh Instalasi
Gizi Perjan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), jenis diet digolongkan
menjadi tiga, yaitu diet rendah protein I: Asupan protein 30 g dan diberikan
kepada pasien dengan berat badan 50 kg. Diet protein rendah II, asupan protein
35 g diberikan pasien dengan berat badan 60 kg. Diet protein rendah III,
diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg. Makanan diberikan dalam
bentuk makanan cair atau lunak untuk meringankan organ pencernaan.